a dog's Journey

A Dog’s Journey – Movie Review

A Dog’s Journey | Hello, Wonderful People. It’s a movie time review.

And now I tell you the story, about A Dog’s Journey yang kayanya nih baru aja tayang di bioskop-bioskop Indonesia. Kalau dari judulnya udah tahu donk, kalau film ini bercerita tentang Anjing dan pastinya nggak jauh-jauh dari cerita pesahabatan Anjing dan Manusia.

BASI..

Tentu tidak, karena kita memang harus selalu belajar dari binatang satu ini bahkan semua jenis makhluk hidup ya. Film ini memang menceritakan tentang pesahabatan, kesetiaan Anjing dengan tuanya, tanggung jawab serta perjalanan reinkarnasi seekor Anjing.

Penasaran?

Let’s read the story

 
a dog's journey

Why did I watch this movie?

Waktu diajakin untuk nonton premier film ini, saya langsung meluncur lihat trailer-nya donk. Biar tahu filmnya pantas untuk di tonton atau hanya sekedar mengisi waktu luang. Dan setelah itu, saya langsung bilang, “gue mau nonton ini film, harus” Ya gimana coba orang filmnya cerita tentang kesetiaan Anjing, kan aku jadi kangen tom-tom (my dog’s name). Sekali-kali melepas rindu sekalian belajar hal baru dan melepas stress pastinya.

But guys,

Filmnya tidak mengecewakan, patut ditonton, wajib bahkan. Saya kasih ranting 4,5/5. Di film ini kalian bukan hanya akan di bawa dari sudut pandang manusia tapi juga Anjing. Diceritakan dari sebuah keluarga sederhana yang tinggal dilahan pertanian. Di sini diceritakan bagaimana mereka berteman dengan hewan peliharan dan menjadikan Anjing sebagai salah satu sahabat yang bisa dikatakan sebagai teman cerita, teman bermain sampai teman yang akan menghibur di kala-kala terpuruk atau sedih. Mungkin seekor Anjing tidak begitu mengerti apa yang manusia bicarakan tapi secara tidak langsung seekor Anjing dapat membaca suasana hati tuanya. Hal inilah yang diangkat menjadi sebuah cerita. oh ya, film ini diadaptasi dari Novel karya W. Bruce Cameron yang memiliki judul yang sama. Jadi, kalau mau tahu cerita secara detail bisa baca bukunya guys.

A Dog’s Story

Bercerita tentang seekor Anjing bernama Bailey, yang dipelihara oleh Ethan (Dennis Quaid) dan istrinya, Hannah (Marg Helgenberger) di sebuah pertanian. Bailey berteman baik dengan keluarga Ethan bahkan dengan cucu mereka yaitu CJ. Masalah timbul ketika ibu CJ merasa tidak sepaham dengan kedua mertuanya dan memutuskan pindah ke kota serta membawa CJ. Ethan dan istri tentu merasa sangat sedih dan lebih sedih lagi ketika Bailey sudah berada di ujung usianya. Sebelum Bailey mati, sang tua yang selalu setia berada disampingnya menitipkan pesan untuk menemukan dan melindungi CJ. Dari sini kisah reinkarnasi Bailey dimulai.

Saya seakan dibawa di kehidupan-kehidupan Anjing yang singkat tapi menyenangkan. Di film ini Bailey di ceritakan reinkarnasi sebanyak 3 kali dan berbeda-beda ras pastinya dan di setiap kehidupannya dia berhasil menemukan CJ. Tapi tidak semuanya juga di pelihara CJ ya. Kalau untuk yang satu ini serta cerita lengkapnya harus nonton langsung donk. Saya nggak mau spoiler loh!

Yang pasti, saya merasakan akan makna sebuah kesetiaan dan persahabatan di film A Dog’s Journey. Dimana dua hal itu tidaklah mudah didapatkan. Membuat saya selalu bersyukur setidaknya hidup saya selalu lebih baik apalagi jika bersyukur. Yuuks buat para movie lovers, nonton filmnya. Nggak bakal nyesel keluar bioskop, kalau mata kalian sembab jangan salahkan filmnya, kalian memang terlalu terbawa perasaan. Hahaha 

See in the other story.

XoXo
Antologi Rasa

Antologi Rasa “Untuk yang Telah Menemukan, Namun Tak Bisa Memiliki”

“Well, welcome to Romance Movie”

Saya penikmat Novel Romance tapi bukan penyuka film romantis. Bagi saya, novel dan film adalah sesuatu yang berbeda. Jadi kalau ada film yang diangkat dari novel, tolong jangan disamakan.
 

“Hayolah, itu-kan dua media yang berbeda, tidak usah disamakan dan dihakimi seenaknya kalau ada banyak bagian yang di Novel dipotong atau ditambahkan.”

Seperti yang saya bilang, saya bukan penyuka film romance kecuali film itu benar-benar membuat saya penasaran. Pemainnya saya suka dan otomatis ada unsur yang membuat saya tertarik untuk melihatnya. Salah satunya film Antologi Rasa karya Ika Natassa. Jujur buat saya pemeran utamanya pas, sesuai dengan karakteristik yang dijelaskan di dalam buku.

The Cast

Film ini bergenrekan romantisme, persahabatan dan pastinya kisah cinta segi banyak di Kota Besar. Diperankan oleh Herjunot Ali (Haris), Carissa Perusset (Keara) dan Refal Hady (Ruly) dengan titik lokasi syuting yang sebagian besar diambil di Jakarta dan Singapura. Para pemain dan tempatnya cukup memanjakan mata di kala suntuk dengan rutinitas sehari-hari.
 
Film yang berdurasi hampir 110 menit ini benar-benar mengambil banyak kata-kata indah di dalam bukunya. Ada tiga kata yang saya suka disini yaitu tema utamanya yang perlihatkan besar-besar di awal film “Untuk yang Telah Menemukan, Namun Tak Bisa Memiliki”. Dialog Keara “Selamat datang di kisah cinta gue yang berantakan” atau kata-kata Haris untuk K “Kalau dia bikin lo ketawa, itu tandanya lo suka sama dia. Kalau dia bikin lo nangis, itu tandanya lo cinta sama dia”
 
Udah cukup ya, tiga kalimat itu benar-benar mewakili semua perasaan buat para pecinta yang sudah menemukan atau masih mencari.

The Review “Antologi Rasa”

Sebelum mulai review saya akan kasih ranting terlebih dahulu. Sayangnya saya tidak bisa memberikan lebih dari 6,7/10. Kawan-kawan yang sudah menonton, pasti tahu ada banyak kesalahan di beberapa adegan, seperti pintu masuk apartemen K yang kedua kali itu berbeda dengan yang pertama. Saya tidak tahu hal itu disengaja atau ada penjelasan lainnya tentang ini. Hal ini cukup fatal karena bisa jadi bahan untuk orang-orang yang suka mengkritik.
 
Antologi Rasa sudah mulai tayang sejak tanggal 14 Feb 2019 dan pastinya sudah dinanti-nantikan oleh para penggemar novelnya Ika Natassa. Secara cerita, film ini tidak begitu jauh dari yang ada di buku. Mungkin hanya ada bagian kecil yang ditambah atau dikurangi untuk menyempurnakan cerita dalam bentuk audio visual. Seperti akhir cerita-nya, yang sudah baca tahu donk kalau di novel ceritanya dibuat menggantung dengan endyang tersirat. Tapi di Filmnya benar-benar di bikin tuntas dan menyenangkan.
Untuk durasi, menurut saya film ini terlalu lama, sedikit membosankan, kurang gerget tapi jauh lebih baik dari film Ika Natassa sebelumnya, Critical Eleven.
 
Singkat cerita, Antologi Rasa bercerita tentang empat orang sahabat yang ternyata masing-masing saling mencintai. Seperti rantai, saling menyambung tapi tidak dikedua belah sisi. Haris mencintai Keara, bad boy yang jatuh cinta pada satu perempuan. Keara mencintai Ruli dalam diam dan Rully yang dengan bodohnya mencintai Denise (Atikah Suhaime), padahal dia sudah berteman dari SMA, satu kuliah dan tempat kerja. Jadi, wajar kalau kisah ini benar-benar berantakan.
 
Saya sudah berkata di awal, Harjunot menjawab visualisasi dari sosok Haris, akting-nya sebagai Bad Boy cukup membuat saya terkesan walau masih ada beberapa unsur seperti saat dia bermain 5cm. Belum lagi beberapa scent yang tadinya mellowbisa dengan mudahnya dia buat menjadi cair kembali secara natural. Ibaratnya udah nangis dibikin ketawa and he is great for that.
Carissa Perusset memang menggambarkan beberapa sisi Keara dibayangan saya dan beberapa teman tapi secara acting dia masih banyak kurangnya. Cukup maklum karena ini film pertamanya jadi saya berkata bagus-lah buat awal permulaan, walau ada beberapa hal yang menurut saya kurang. Sepertinya dia terlalu mengikuti dialog atau arahan. Padahal acting itu kadang kala butuh Improvisasi-kan
 
Well, that is my opinion. See you in the another story
Btw yang blm baca review movie sebelumnya, silahkan mampir Foxtrot Six
xoxo 
Silvia 👯

Photo: Google

Review Foxtrot Six, Film Indonesia dengan Prediksi Masa Depan Bangsa

Wow..
Bulan ini udah kaya bulan Desember ya. Banyak Film Indonesia yang menurut saya patut dinikmati. Okay dinikmati, bukan ditonton hanya untuk dicaci.
 
 
Ada tiga judul film yang akan saya tulis dan saya akan mulai dari yang satu Foxtrot Six. Film pertama yang akan saya share termasuk film yang cukup baik dan membuka mood di tahun 2019.Mohon maaf baru nonton film ini yang pertama di awal tahun. *sedih ya nggak ada yang ngajak*

 
Gala Premier
Setelah sekian lama tidak nonton Premier, akhirnya saya dapat juga undangan untuk menghadirinya. Saya suka datang ke acara Premier ini bukan tanpa alasan. Pertama bisa tahu filmnya terlebih dahulu, rasanya luar biasa karena bisa nonton sama orang-orang yang memang niat untuk menyaksikan. Tapi kalau ada beberapa hal yang menurut saya belum saya mengerti dan harus saya perhatikan kembali biasanya saya akan nonton lagi.
 
 
 
Alasan kedua sudah pasti disini bertaburan bintang dan tamu undangan. Jalin relationship dengan orang lain itu penting loh! Ketimbang menyebar kebencian kan! Ketiga dan yang paling penting adalah saya bisa dapat informasi sebanyak-banyakanya tanpa harus termakan berita-berita hoak diluar sana. Mulai dari alasan kenapa film ini pakai bahasa inggris ketimbang bahasa indnesia, siapa saja yang ikut terlibat, alasan pembuatan film sampai biaya yang dikeluarkan.
 
The Review
Foxtrot six dibintangi aktor-aktor keren tanah air, sebut saja Oka antara (Angga), Julie Estelle (Sari Nirmala), Chicco Jerikho (Spec), Rio Dewanto (Bara), Verdi Solaiman (Oggi), Arifin Putra (Tino), Mike Lewis (Ethan) dan Edward Akbar (Wisnu). Bercerita tentang Angga, mantan mariner yang mengajak beberapa kawan lamanya untuk membatu dirinya menyelamatkan Indonesia dari kehancuran yang dibuat oleh Partai Pembelot PIRANA. Singkat cerita banyak hal yang dilakukan oleh Partai Pembelot PIRANA yang menyebabkan kekacauan mulai dari kemiskinan yang semakin menjadi, kelaparan, keadaan negeri tidak tenang sampai dengan adanya pemberontakan karena mereka merasa tidak adil dengan apa yang terjadi.
 
Film yang berdurasi 114 menit ini benar-benar mengambil sisi politik secara apik. Menceritakan secara tersirat bahwa keberhasilan bangsa berarti keberhasilan pemimpin (anggota dewan dan president) yang tahu bagaimana menjaga aman rakyat, menjadikan kesejahterahan rakyat sebagai pedoman dan memuat rakya makmur tanpa adanya kemiskinan yang mencekik. Buat saya film ini cukup tepat tayang dibulan Februari. Indonesia akan pemilu dua bulan lagi kan! Jadi film ini bias jadi refensi untuk kita semua bagaimana menilai sosok pemimpin masa depan.
 
Terlepas dari alur ceritanya yang mengangkat sisi politik tanah air, korupsi terutama. Foxtrot six juga bercerita tentang romatisme sang bintang utama, kesetian kawan dan rasa nasionalisme atau rasa peduli terhadap sesama. Dikemas dengan apik dan memberikan banyak pesan moral menjadikan film ini semakin baik untuk dijadikan list salah satu referensi di akhir pekan.
 
Bagi yang penasaran dengan film ini bisa dengan segera menyaksikannya tanggal 21 Febuari 2019. Buat yang belum lihat traillernya bisa lihat terlebih dahulu. Dari sini, akan ada banyak hal yang membuat para penonton penasaran.
 
[youtube=https://www.youtube.com/watch?v=K6n3VPO1oGE&w=320&h=266]
 
 
Alasan kenapa harus nonton
 
Sekarang waktunya saya berpendapat.
 
Berapa bintang yang saya kasih, mungkin saya bias kasih 8,3 dari 10.
 
Foxtrot six menghabiskan banyak biaya sampai dengan 5 juta dollar atau setara dengan 70 miliar Rupiah. Hasil film ini tidak mengecewakan jadi angka setinggi itu benar-benar masuk kedalam jajaran dana yang cukup baik walau masih tinggi ya untuk film Indonesia. Tapi kembali lagi, siapa saja yang terlibat dalam film ini, kenapa bisa mencapai angka setinggi itu?
 
Saya cukup salut dengan keberanian MD Picture mengeluarkan dana sebesar itu. Usus punya usut film ini juga berada di bawah naungan Rapid Eye Picture dan mengajak Mario Kassar sebagai salah satu produser yang terlibat. Belum lagi para artis yang dilayani sangat baik untuk menjaga konstrasi penuh mereka selama proses syuting. Jadi, dana segitu cukuplah untuk film action.
 
 
Jangan kaget ya kalau nonton film ini rasanya kaya nonton film Holliwood. Kenapa?
Karena semua dialog full English, tidak heran banyak media yang bilang film ini rasa film Hollywood padahal ya kalau kata saya berasa nonton film action-nya orang jepang. Banyak darah, adegan kasar dan penuh dengan intrik muslihat. Dan kembali lagi kepada pendapat masing-masing, itu kan kata saya. Mungkin kalau kalian suka nonton film dari macam negara akan jauh lebih tahu rasanya.
 
Satu lagi alasan kenapa film ini wajib ditonton, menurut pengakuan sang sutradara bahwa dia ingin mengharumkan nama Indonesia di luar negeri. Dengan dialog yang mengunakan bahasa inggris tentu akan lebih mudah diterima oleh masyarakt Luar. Alasan ini masuk akal, Lagi pula orang Indonesia juga cakap kan menggunakan bahasa inggris sehari-hari.
 
xoxo 

Silvia 👯

Instagram : @silviaofstory
Twitter : @SilviputriN
Facebook: silviputrin

Photo: Google

Mission Imposible

Mission Impossible – Fallout Review

Telat Nonton Mission Impossible tapi jadi berkali-kali

Mission Impossible jadi salah satu film yang selalu ditunggu-tunggu. Jadi gimana ceritanya aku bisa nonton film yang satu ini tapi rada telat. hmm. Yuk mulai cerita aja, hehehe
 Hi..
Pencinta Film Penikmat Seni.
Aku mau review Mission Impossible 6
“Wow.. telat yakkk”
“Parah telat banget,”
Ya gimana donk, aku kan nontonya juga telat. Akhir bulan banget loh itu kemarin. Udah gitu kemarin aku harus menghadiri acara di beberapa tempat. Jadinya, yaaaa harus ada yang dikorbankan dan telat deh nonton Om Tom Cruise yang masih tetep kece di usia 55 tahunnya itu. Diusianya yang terbilang cukup tua dan masih bisa main adegan-adegan bebahaya tanpa peran pengganti. Cakep sih, ther real actor serba bisa memang. Cuma om om satu ini yang kecelah kalau meranin peran. Totalitas, nggak bikin penonton dan penggemarnya kecewa.
Btw, selain Tom Cruise, yang jadi penjahatnya juga kece badai. Hayoooo siapa??? Tebak sendiri ya, aku ga mau bocorin siapa. Buat yang udah nonton pasti tahu siapa yang aku maksud. hehehe
Sekarang waktunya review, bukannya ngomongin cowo-cowo kece badan aduhaiii hahaha *dasar ababil*

Ranting Mission Impossible Fallout di IMDb

Aku selalu lihat review dan bintang dari suatu film di IMDb dan rottentomatoes.com sebenarnya. Dan karena aku nontonya telat, udah pasti aku lihat review dulu, and yap dibandingkan dengan M:I sebelumnya, yaitu “Rague Nation” (2015), Fallout dapat bintang lebih banyak, otomatis lebih banyak pujian. ‘Rague Nation’ hanya mendapatkan 7.4 bintang di IMDb, 93 tomatometer and 87 audience score di rottentomatoes.com. Sedangkan Fallout mendapatkan 8.4 bintang IMDb dan dan 97% tomatometer and 92% audience score.
Angka yang cukup bagus bukan perbandingannya. Karena itulah aku sampai baca satu persatu komentar mereka. Ya, ga satu-satu juga siih, tapi lumayanlah buat diambil garis besar.
Tapi kalau diteliti lagi, memang untuk film yang punya genre action akan lebih banyak dapat bintang, walau semua akan kembali lagi ke alur cerita dan adegan yang disuguhkan ke penonton. Padahal ya, Fallout ini berdurasi hampi dua setengah jam tapi sama sekali tidak ada kata bosan untuk mewakili setaip adegannya. Yang ada waktu segitu seakan kurang untuk melihat setiap aksi yang dilakukan oleh Ethan Hunt.

Kemasan Menarik Mission Impossible

Mission Impossible Fallout is an action, adventure, thriller movie.  Yang katanya nih sebagai akhir dari ceritanya Ethan Hunt. Tapi sepertinya masih akan ada cerita lanjutan sih kalau dilihat-lihat!
Llau, kenapa bisa dibilangi sebagai cerita final dari sang pemeran utama?
M:I Fallout  dimulai ketika Ethan Hunt dan rekan-rekannya Benji Dunn (Simon Pegg) dan Luther Stickell (Ving Rhames) mendapatkan tugas untuk mengambil plutonium dari penjualan gelap. Sayangnya tugas itu gagal dan membuat CIA bepikir jika Ethan tidak professional dalam menjalankan tugas. Karena lebih memilih untuk menyelamatkan temanya ketimbang plutonium. Hal itulah yang membuat direktur CIA Erica Sloan (Angela Bassett) tidak mempercayai Ethan dalam tugas selanjutnya dan memerintahkan August Walker (Henry Cavill) sebagai bagian dari team mereka. Yang tidak lebih kalau aku bilang sebagai penjaga atau memantau Ethan dan kawan-kawannya dan melaporkan setiap gerak geriknya ke CIA.
Seperti biasa, dalam tugas pasti akan ada gangguan-gangguan dan membuat penonton terkejut selama film berlangsung. Seperti kembalinya Ilsa Faust (Rebecca Ferguson) dengan tugas yang belawan dengan Ethan. Diketahui di M:I 5 sebelumnya, Ilsa sangat ingin terbebas dari MI6 dan pastinya ada syarat sekaligus tugas tekahir yang harus dilakukan. Di sini, lagi-lagi kita akan menyaksikan Ilsa yang berada disimpang jalan yang berlawan dengan Ethan. Tapi aku akan menyebutkiannya sebagai tugas yang sama tapi berbeda cara.
Btw ini udah paham belum kemasan menariknya dimana?
Sepertinya aku harus menjelaskan Daya Tariknya ada dimana.
Saat melakukan browsing, aku baru tahu kalau Fallout itu adalah sebuah games. Jadi nggak ada salahnya kalau aku berkata film ini seperti game mata-mata. Dan ini juga di tulis oleh kritikus di salah satu online magz, yaitu Guardian. Jika aku lihat-lihat foto dari game tersebut, game tembak-tembakan ini menampilkan pembelaan satu sama lain yang menampilkan pertumpahan darah dan itu adalah hal yang wajar memang.  Layaknya sebuah games kekerasan yang menampilkan kesan heroic. Terlepas dari itu Erica juga menyebutkan apa yang dilakukan Ethan and team seperti kawanan para hantu di hari perayaan Halloween. Mungkin itulah kenapa M:I kali ini dinamakan Fallout.
Seperti games yang banyak menampilkan tembak-tembakan untuk menghancukan lawan, Mission Impossible- Fallout juga menampilkan banyak adegan berbahaya yang langsung diperankan oleh Tom Cruise tanpa pemeran pengganti. Klimaksnya ada pada saat kejar-kejaran dengan helicopter di Kashmir, menegangkan sekaligus seru saat menyaksikan Ethan yang sama sekali tidak bisa mengendari Heli. Betul-betul membuat penonton ketar-ketir.

Alasan Nonton Film ini berkali-kali

Di awal-awal film, penonton juga dibuat tegang dengan adegan lompatan yang dilakukan Tom Cruise, HALO (High altitude – low opening). Jika lompat dari pesawat biasa mungkin dilakukan di atas ketinggian tertentu tapi ini sudah bukan ketinggian tertentu lagi jika dilakukan langsung di atas awan yang sedang dalam keadaan penuh dengan petir. wow pemulaan yang cukup mengesankan bukan!
Belum kelar di situ, penonton juga dibuat terkesan sekaligus menggelitik pada saat Ethan dipandung oleh Benji untuk mengejar August Walker. Bukan dilapangan atau dijalan raya tapi melopmpat dai satu Gedung ke Gedung lainnya di kota Londan. Jika diperhatikan dengan teliti, Ethan seperti benar-benar mematahkan kakinya pada saat melakukan pengejaran dan dia tetap melakukannya pengejaran sampai akhir. Tidak berhenti sampai di situ, penonton diajak menjelajahi kota Paris dalam balapan motor tanpa helm yang dilakan oleh Ethan. Terlihat gila, tidak masuk akal, berani sekaligus membuat penonton terus bedecak kagum.
Buat aku, Fallout adalah blockbuster di musim panas kali ini. Film terbaik yang menutup musim panas kali ini. Sekaligus sebagai film M:I paling seru dari semuanya. Kalau mau dikasih bintang, aku akan kasih 4 dari 5. Heiii tidak ada yang sempurna kan!
And see you in the next story, don’t forget to follow me on social media and check the other movies review
xoxo 

Silvia 😘

Mamma Mia! Here We Go Again

Back to movie review

Hai semua, Siapa yang weekend kemarin menghabiskan waktunya untuk nonton film?
Soalnya aku mau review salah satu film yang aku watch sabtu kemarin. Dan memang lagi banyak film-film bagus dari awal bulan lalu sampai sekarang siiih. Bahkan akan ada satu film yang sudah aku tunggu-tunggu dari awal tahu. Tahu donk MI alias Mission Impossible yangtayang perdana rabu besok and btw tiketnya udah bisa dibeli ya. Jadi yang pengen banget nonton di hari pertama mendingan langsung pesan tiketnya dari sekarang. Dari pada kehabisankan!

Baca Review Sebelumnya di sini Film Review

Lagi-lagi Telat Nonton

Sayangnya, aku nggak nonton di hari pertama, karena lagi-lagi alasan utamannya kerja dan malas untuk pulang terlalu malam jadinya aku putuskan buat nonton di hari sabtu. Parahnya lagi, aku kira filmnya akan ada di semua jam ternyata eh ternyata hanya tayang di jam-jam malam. Mulai dari jam 16.35 sampai midnight jam 00.00. Yang jadi pertanyan aku kenapa begitu ya, padahal kan ini bukan film dewasa yang harus tayang malam-malam.
Bete banget kemarin itu, udah hari sabtu datang buru-buru ke mall eh filmnya nggak ada yang tayang siang. Ya okaylah jalan-jalan dulu, lumayan menghibur diri di hari libur gini. Dari pada marah-marahkan lebih baik having fun.
Setelah jalan-jalan dan belanja beberapa barang akhirnya aku masuk juga ke studio sekitar jam 7an. *iya aku tahu aku malah nonton malam jadinya. Kelamaan belanja sis* and btw filmnya mulai jam 7.15 sis jadi masih ada waktu buat lihat-lihat siapa aja yang kepo sama film satu ini. Dan ternyata sesuai dengan dugaan, kalau studio ini didominasi oleh kaum hawa. Hampir semua penontonnya adalah perempuan, yang berusia sekitar 30 tahunan ke atas bahkan nggak sedikit gerombolan ibu-ibu kaya yang disamping aku ini. Sumpah berisik, pada ikut nyanyi. Zzzz

Mamma Mia Review

Aku nonton pertama kali Mamma Mia tahun 2008, Kalau ga salah saat itu masih pakai seragam dan kakakku ngajak nonton. Jadi aku memang udah suka nonton dari kecil. Apalagi kalau filmnya kaya gini. Makin suka deg, padahal yang nonton tuh bukan anak-anak atau remaja tapi lebih ke ibu-ibu dan yang seumuran kakakku.
Awalnya suka dengan film Mamma MIa ini karena lagu-lagu lama alias lawas alias jadul yang dinyanyiin ulang sama para pemainnya. Dan saat aku nonton ulang beberapa hari lalu, aku baru nemu kendala-kendala kaya pemaksaan pemain untuk nyanyi. Ya walau better-lah masih enak didengar. Aku juga udah baca beberapa kritikus film di guardian.com atau para penikmat film di rottentomatoes.com dan IMDb. Hampir semua berpendapat sama seperti tapi ujung-ujung akan selalu bilang kalau ada sesuatu yang sweet dari film ini. Yaitu lagunya, mereka akan mengingat-ingat setiap adegan karena lagunya cukup melekat di hati. Iyakan?

Lagu-lagu ABBA yang ga ada matinya

Lagu-lagu dari group band asal Swedia, ABBA memang booming pada masanya dan waktu dinyanyikan kembali di film ini, jadi sesuatu yang.. gimana ya jelasinnya, unique and sweet gitu. Selalu teringat dan lambat-laun malah jadi sering nyanyiin. Aku juga gitu sih, suka banget sama lagu-lagunya. Ingat di luar kepala bahkan full ost ada di Playlist. Saking sukannya.
Setelah satu decade berlangsung, I falling in love again with you *young Donna* gilaaaaa Lilly James bisa meranin young Donna dengan apik tanpa cela dan aku nggak bisa kasih cela sedikit buat kritik. Gimana ya jelasinnya, aku juga bingung. Masalahnya tuh, dia prefect gitu, ya mungkin ada kurang-kurangnya dikitlah. Tapi aku nggak lihat siih.

Young Donna

Donna yang kita kenal di Mammia Mia versi Maryl Streep tuh penuh semangat, cerdas dan membuat siapa saja tertawa dan tersenyum dengan mudahnya. Membuat hidup yang kacau jadi lebih indah sesuai dengan sudut pandang dia. Membuat setiap langkah jadi mengasyikan, iya sih ini dibantu dengan adanya musik dan tarian but its Donna.
Dan sekali lagi, Lily benar-benar berubah jadi young Donna. Penuh semangat, jiwa petualang berani melangkah dan memiliki hati yang tulus serta selalu membuat orang-orang disekitarnya menyukai dirinya tanpa cela.
Cerita ini dimulai saat Sophie (Amanda Seyfried) ingin membangun kembali hotel tempatnya menjadi sesuai dengan impian Donna. Ada banyak kilas balik antara zaman Sophie dan young Donna,  dimana setiap sudut hotel tersebut jadi tempat bersejarah untuk mereka. Dimulai saat Donna memutuskan untuk menjelajahi dunia untuk mencari tujuan hidup setelah lulus dari kampusnya dan berakhir di hotel yang sudah di sulap begitu cantik.
Setiap tempat jadi cerita menyenangkan di hidup Donna pada saat itu. Hotel yang didapatkan secara cuma-cuma awalnya jadi tempat yang penuh dengan kenangan akhirnya. Sophie berusaha untuk tidak menghilangkan kenangan itu tapi membawanya kembali agar dia dapat semakin dekat dengan hidupnya.
Oh ya, jangan lupa perjalanannya dalam menemukan tiga pria-pria tampan pada masanya, benar-benar dalam waktu singkat Donna dapat menaklukan tiga pria sekaligus. woow ..

79% dari Rotten Tomatoes

Mamma Mia dapat apresiasi yang cukup baik di rottentomatoes.com dan IMDb. Masing-masing punya angka yang hampir sama yaitu 79% dan 73%. Otomatis angka tersebut terbilang cukup bagus dan recommended. Aku bahkan berencana untuk menontonya lagi nanti, di waktu senggang dan suntuk.
Jadi, apa kalian sudah punya waktu untuk menontonya?
And see you in the next story, don’t forget to follow me on social media

xoxo 

Silvia 😘

Photo: by Google

Dibalik Kisah Sang Legenda Musik, Chrisye

Hai…
Desember kali ini saya buka dengan review film. Niatnya akan ada dua hal yang saya bahas satu di tulisan yang ini dan yang satu saya publish akhir pekan ya *semoga ingat, amien*
Sudah lihat judulnya kan, jadi tahu donk film pertama yang akan saya review apa?

Di Balik Kisah 

Beberapa hari yang lalu, saya dapat kesempatan dari Blogger Crony Community untuk menyaksikan Film Chrisye di XXI Epicentrum, Jakarta Selatan. Gala Premiere yang diselenggarakan pada tanggal 1 Desember 2017 ini dihadiri oleh sejumlah pemain, Vino G. Bastian (Chrisye), Velove Vexia (Damayanti Istri Chrisye) dan masih banyak lagi serta kru dan spesial dari Ibu Damayanti Noor yang juga turut hadir di tengah-tengah Press Conference.
Kami semua disambut hangat oleh kru yang bertugas, bercengkrama dan saling menebar kata-kata pujian untuk Sang Legenda atas dedikasinya untuk Musik Indonesia. Karena itu, tidak salah jika saya berkata bahwa dia (Chrisye) memiliki suara dan lagu-lagu indah sepanjang masa yang masih kami dengarkan sampai sekarang.
Jika sebelum masuk ke pintu cinema saya dan kawan-kawan dapat tertawa bahagia maka hal itu berbanding terbalik saat saya keluar dari pintu cinema. Yang ada hanya haru rindu bahagia. Kenapa?

Sentuhan Yang Tidak Diketahui

Campur aduk. Selalu begitu jika saya sehabis menonton film yang menurut saya patut untuk ditonton berkali-kali. Bukan hanya rasa rindu biasa tapi juga rindu bahagia karena saya mengetahui sisi lain dari perjuangan seorang musisi tanah air.
Dimana dia hidup di jaman yang tidak semua orang akan berkata bahwa menjadi seniman itu memiliki masa depan yang cerah. Belum lagi tekanan keluarga yang mana Ayah tercinta menginginkan dirinya menjadi seorang Insinyur bukan musisi.
Melawan batas, berusaha keras membuktikan diri, konsisten dan totalitas terhadap apa pun pilihannya. Dia (Chrisye) mengajarkan saya untuk selalu mengingat siapa-pun kita, yang harus selalu rendah hati, sederhana, melihat hidup dari sisi yang lain serta mengingat selalu bahwa Tuhan tidak pernah tidur dan selalu mendengar doa-doa hambanya. Di film ini juga membuktikan bahwa titik terendah sang musisi dimana dia ingin menyerah menjadi penyanyi. Dimana pada saat itu dia merasa tidak percaya diri untuk menghidupi keluarganya. Akan tetapi, dibalik itu semua banyak kesempatan yang datang padanya memberikan kesempatan yang tidak dimiliki penyanyi.
Yaitu Menggelar konser di Balai Sidang Senayan dengan jumlah penonton sekitar 3.000 dan tiket habis terjual sebelum konser. Seperti itulah di Balik Kisah sang Maestro
Tidak banyak orang yang tahu perjalanan sang legenda. Meyakinkan keluarganya bahwa dengan menjadi musisi dia bisa menjadi seseorang akan selalu diingat, dicintai dan yang paling penting adalah meyakinkan dirinya sendiri bahwa pilihanya tidak salah.

FILM CHRISYE

Saya hanya akan berkata, jika kamu yang membaca tulisan ini dan penggemar musik tanah air khususnya lagi-lagu almarhum, tidak ada salahnya untuk menonton. Saya bukan pengamat film atau kritikus, saya hanya pencinta seni, penikmat buku dan hobi berkeliling *hahaha jadi cerita* buat saya, film yang patut ditonton berkali-kali adalah film yang dapat membangkitkan emosi terdalam kita.

Jadwal Film

Dan saya memberi nilai 4/5
Silahkan beri nilai kalian sendiri *dikolom komentar boleh* hehehe
Buat yang udah nggak sabar dan penasaran, Film Chrisye sudah bisa disaksikan di bioskop-bioskop seluruh Indonesia serempak Tanggal 7 Desember 2017.
Okay…
Sampai jumpa di Review selanjutnya 😘
Jakarta

Review Grand Whiz Points Square

Grand Whiz Points Square |Kali ini aku mau cerita eh .. salah mau kasih review menarik tentang salah satu hotel di Jakarta maksudnya 😄

Namanya Grand Whitz Poins Square, Jakarta.

Sebelum itu, gue akan cerita kapan tepatnya gue dapat undangan untuk berkunjung kemari. Kalau ga salah seminggu sebelum gue dan para teman blogger lainnya datang kemarin, gue dapat undangan via email. Setahu gue hotel Grand Whitz adanya di Kelapa Gading dan ternyata memang masih baru yang ada di daerah Lebak bulus ini, sekitar setahunan.
 
And I was here, to review, 
to give a comment and 
to laughing with new and
old friends.
Hehehe gitu aja ceritanya, Okay,,

Read More